KH Saifuddin Zuhri dan Pertempuran Ambarawa

Pada usia 19 tahun KH Saifuddin Zuhri dipilih menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama Daerah Jawa Tengah Selatan, dan Konsul Nahdlatul Ulama Daerah Kedu merangkap guru madrasah. Berbarengan dengan itu, ia aktif dalam dunia kewartawanan, menjadi koresponden kantor berita Antara dan beberapa harian dan majalah. 

Sebagai Komandan Divisi Hizbullah Jawa tengah dan Anggota Dewan Pertahanan Daerah Kedu, ia memimpin laskar Hizbullah untuk bersama-sama pasukan TKR dibawah pimpinan Kolonel Soedirman dan berbagai kelaskaran rakyat lainnya, ikut bertempur di Ambarawa yang terkenal dan berhasil mengusir penjajah.

Pertempuran Ambarawa sendiri terjadi karena Sekutu harus segera mengungsikan orang-orang Eropa di Ambarawa dan sekitarnya yang berjumlah sekitae 10.000 orang. Sebenranya, Sekutu dan Pemerintah Indonesia sudah sepakat untuk mengungsikan orang-orang Eropa tersebut secara damai, namun dalam praktiknya Sekutu mempersenjatai mereka. Sudah begitu, Belanda dengan NICA membonceng pasukan Sekutu untuk kembalo menjajah Indonesia. Mau tidak mau, rakyat Indonesia harus memberikan perlawanan secara maksimal.

Dalam perang Ambarawa yang berlangsung hampir 20 hari tersebut, pasukan Sekutu yang dibantu sedadu-serdadu NICA dan bekas tentara Nippon tidak mampu menahan serangan-serangan rakyat dan akhirnya terpukul mundur ke arah Semarang. 

KH Saifuddin Zuhri bersama pasukan tempurnya dari Hizbullah, sebelum bergabung dengan TKR dan tentara kelaskaran rakyat lainnya dalam perang Ambarawa, terlebih dahulu telah melakukan mobilisasi kekuatan tempur untuk menyerang Inggris di Magelang. Magelang jatuh ke tangan Sekutu satu minggu setelah berkobarnya pertempuran Surabaya tanggal 10 November 1945. Tentara Inggris yang membawa bendera Sekutu itu menguasai jalan raya Ambarawa-Semarang dan Ambarawa-Magelang berkat pasukan tank dan pesawat terbang mereka. 

Namun, ketika KH Saifuddin Zuhri bersama Letkol M. Sarbini dan Letkol A. Yani membicarakan tentang rencanan serangan serentak mengepung markas Sekutu di Magelang, dengan membuat gerakan ‘mencekik leher’ dari berbagai arah, tiba-tiba datang kuriri mengabarkan bahwa Sekutu sedang membuat gerakan mundur meninggalkan Magelang menuju Ambarawa. 

Bersama-sama pasukan lain dari TKR dan laskar lainnya, Hizbullah melakukan pengejaran terhadap tentara Inggroos untuk membebaskan kota Ambarawa dan sekitarnya. 

Dari tanggal 23 November hingga 12 Desember 1945, terjadilah pengepungan dan serangan rakyat Indonesia terhadap Sekutu yang menduduki Ambarawa. Berbagai pasukan rakyat yang terdiri atas TKR, Hizbullah, Sabilillah, Barisan Pemberontakan, Laskar Rakyat, dan lain-lain mengepung Ambarawa dari berbagai jurusan. Tembak-menembak terjadi di desa Jambu, Bedono, Pringsurat, Ngipik, dan Suruh. 

Setelah hampir 20 hari pertempuran sengit itulah, akhirnya pada 15 Desember 1945, Ambarawa kembali ke pelukan Republik Indonesia dan membuktikan kepada internasional bahwa bangsa Indonesia akan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dengan sungguh-sungguh. 

Dalam pertempuran Ambarawa, lahir seorang panglima pertempuran yang gagah berani, yang membuktikan kecakapannya dalam strategi dan operasi tempur. Panglima itu, menurut KH Saifuddin Zahri dalam buku Berangkat dari Pesantren adalah Soedirman, Komandan Divisi TKR Banyumas yang berpangkat kolonel. 

Dalam pertempuran Ambarawa, Kol. Soedirman memimpin langsung dengan menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. Tujuannya adalah memutus rantai komunikasi dan logistik antara Sekutu dengan induknya. 

Untuk itu, Kolonel Sudirman membutuhkan dukungan banyak tentara. Tidak mungkin ia menggunakan taktik itu jika mengandalkan tentara reguler, yaitu TKR. Kedatangan laskar-laskar rakyat menjadi sangat penting, karena akan menjadi elemen penting untuk mengefektifkan taktik supit urang. 

Salah satu laskar rakyat yang paling terorganisasi dan terlatih adalah Hizbullah. Komandan Divisi Hizbullah Jawa Tengah saat itu, KH Saifuddin Zuhri harus bekerja keras agar taktik yang telah digariskan Sudirman dapat berhasil dengan baik. 

Menjelang pertempuran, KH Saifuddin Zuhri harus memobilisasi laskar Hizbullah dalam jumlah besar, karena tektik supit uurang membutuhkan pasukan yang sangat banyak karena menyerang musuh dari dua arah. 

Selanjutnya, dalam pertempuran Komandan Hizbullah juga harus menjaga disiplin dan ritme pertempuran agar sampai pada titik penyerangan secara bersamaan dengan pasukan yang berada di arah sebaliknya. Percuma, jika pasukan dari zona utara datang duluan, sementara pasukan dari zona selatan masih di perjalanan. Jika hal itu terjadi, maka tentara Sekutu akan mudah melumpuhkan perlawanan. 

Pertempuran Ambarawa memberikan pelajaran penting, yaitu: pertama jika seluruh rakyat bersatu, dengan senjata yang minimal pun mampu mengalahkan musuh dengan persenjataan modern. Kedua, kemenangan bangsa Indonesia dalam pertempuran Amarawa merupakan pernyataan penting bahwa seluruh rakyat Indonesia mendukung Proklamasi Kemerdekaan RI. Ketiga, perang Ambarawa merupakan pesan penting bahwa Sekutu tidak boleh melibatkan diri membantu Belanda yang ingin berkuasa kembali.

Karena keterlibatan aktif, sungguh-sungguh, dan penuh kepahlawanan dari KH Safuddin Zuhri dalam Pernag Ambarawa dan perang gerilya lainnya, malka Presiden/Panglima Tertinggi Angkata Bersenjata Republik Indonesia menganugerahkan “Tanda Kehormatan Bintang Gerilya”, sesuai dengan SK Presiden Republik Indonesia No. 2/Btk/165 tanggal 4 Januari 1965.

Tanda Kehormatan Bintang Gerilya adalah tanda yang dikeluarkan untuk setiap warga negara RI yang menunjukkan keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaan yang luar biasa dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia semasa revolusi antara tahun 1945-1950. Mereka yang menerima Tanda Kehormatan Bintang Gerilya berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.