Benteng Pendem / Fort Willem I – Ambarawa

Lembap, senyap, suram dan nyaris tak ada kehidupan. Itulah pandangan pertama pada bangunan tua yang hampir terbenam di tengah-tengah sawah. Benteng Willem I begitu namanya, tapi ada masyarakat sekitar kadang memberi nama Beteng Pendem.

Ambarawa, kota penuh sejarah akan perjuangan bangsa ini untuk merebut kemerdekaan. Ambarawa adalah tempat yang strategis untuk membangun basis kekuatan militer. Dari lereng gunung Ungaran terdapat barak Bantir sebagai markas kaveleri hingga di tepi Rawa Pening berdiri kokoh benteng pertahanan. Peninggalan kolonial Belanda, saat ini masih kokoh berdiri walau sudah tak tegak lagi karena di makan jaman.

Beteng Ambarawa, itu yang tertulis saat memasuki benteng dari arah belakang dekat RSUD Ambarawa. Sisi kanan adalah sawah dan di ujung jalan nampak bangunan yang sekilas menyeramkan. Inilah potret klasik bangunan peninggalan masa lalu yang terbengkalai karena tidak adanya perawatan dari pewarisnya.

Masuk pelataran benteng, nampak anak-anak dengan riang bermain sepeda. Inilah anak-anak para petugas lapas yang tinggal di Lokasi Benteng. Benteng dengan luas lokasi sekitar 8hektar ini di bagi menjadi beberapa blok. Sisi selatan di gunakan sebagai Lapas Kelas II A dan sisi utara sebagai barak militer atau perumahan pegawai lapas. Memang menyeramkan begitu memasuki lokasi ini, tapi penghuninya begitu ramah ketika saya bertanya-tanya tentang benteng ini. Lantas sebagai budaya militer, wajip lapor adalah birokrasi yang harus di tempuh.

Sejarah panjang tertoreh pada benteng ini. Selain sebagai basis pertahanan, benteng ini juga digunakan sebagai penjara bagi para tawanan. Beteng atau penjara pendem, banyak yang berkidig mendengar nama lapas ini. Konon banyak perlakuan yang mengerikan diterima tawanan di penjara ini.

Bangunan benteng ini simetris bujur sangkar. Masing arah mata angin ada bangunan, yang katanya sebagai garasi kendaraan tempur; seperti tank dan truk pengangkut. Di sudut benteng ada bangunan yang berfungsi sebagai dapur, rumah, dan penjara wanita. Benteng utama konon sebagai penyimpanan logistik perang, kantor, barak dan penjara. Sekilah melihat teralis-teralis besi di setiap jendela tak lain ini adalah penjara yang kokoh pada waktu itu.

Berbeda dengan Lawang Sewu di tengah kota Semarang yang saat ini sudah di pugar dan menjadi jujugan pelancong. Mungkin benteng ini jika sebagian mendapat sentuhan, akan jauh lebih menarik karena tempatnya yang jauh dari keramaian. Kembali pada masalah pendanaan dan birokrasi yang rumit. Tentunya inilah salah satu peninggalan sejarah yang harus tetap di jaga seperti para sipir berjaga untuk para napi.

Tags: